Kolom dari rapper Rogero; Kunjungi Ambon Pulang Kampong

by Visit Ambon 2020

Sebagai wakil dari District 95 dan sebagai staf Majalah Tifa, Roger Neervoort-Tehupuring, juga dikenal sebagai Rogero dari grup rap MutiaraTEC, melakukan perjalanan ke Maluku untuk mengikuti perayaan ulang tahun ke-443 Kota Ambon. Di artikel ini ia berbagi pengalaman dan kesan yang didapatkan.

Ambigu. Begitulah cara saya menggambarkan perjalanan saya ke Ambon. Di satu sisi, saya sebagai keturunan Maluku, ini merupakan pengalaman pertama untuk menginjakan kaki di tanah air saya. Di sisi lain, sebagai perwakilan untuk District 95, bersama-sama dengan Ambonwhena Aratuaman dan Angelo Manuhutu, saya memenuhi undangan dari Walikota Richard Louhenapessy, untuk berkunjung ke Ambon sekaligus untuk membahas segala hal yang dapat mendukung kesuksesan pelaksanaan “Visit Ambon 2020.

Dari pesawat, Anda dapat melihat dan merasakan pulau seperti datang menghampiri Anda, pilot mengatur pendaratan dengan sangat baik dan pemandangan pohon-pohon palem di bandara menjadi nampak lebih jelas. Begitu saya mendarat, kenyataan yang tidak bisa diingkari adalah ketika saya melihat sekeliling dan mendengar bahasa yang digunakan, saya menyadari bahwa saya adalah bagian dan sekaligus pemilik dari tanah ini, dan suasana ini tidak membuat saya seperti melakukan perjalanan ke luar negeri.

Kami diterima oleh perwakilan dari pemerintah Kota Ambon kaka Rico Hayat dan paman Novfy Warella, yang langsung mengatakan: “Pelan pelan, pertama kita akan minum teh.” Kemudian kita menuju kota Ambon dengan melewati jembatan Merah Putih yang pernah diceritakan oleh Walikota dengan mengesankan, bahwa meskipun tidak diizinkan, banyak orang berhenti di atas jembatan hanya untuk mengambil gambar. Saya diberitahu bahwa di waktu lampau, perjalanan dilakukan dengan mengitari teluk sehingga sekarang keberadaan jembatan ini sungguh sangat menghemat banyak waktu. Juga, di kota Ambon menjadi jelas bahwa visi walikota adalah untuk menjaga kota tetap terjaga dengan baik. Ini tampaknya berbeda dengan masa lampau, selain perasaan positif saya, tidak ada kesan pertama yang meragukan Ambon sebagai ibukota Maluku.

Kegiatan utama dari perjalanan ini adalah perayaan hari jadi ke-443 Kota Ambon. Perayaan dilakukan di Lapangan Merdeka tempat orang-orang berkumpul untuk menghadiri ini.

Dalam perayaan, banyak musik yang disajikan dan tentu saja tarian cakalele tidak pernah lupa untuk ditampilkan. Budaya dan adat istiadat kami sangat dihargai. Selama pidato walikota, menjadi jelas bahwa persatuan dan kerja sama antara kami sebagai orang Maluku adalah prioritas dalam agendanya. Oleh karena itu, merupakan suatu kehormatan bahwa di hadapan semua tamu dan undangan kami diperkenalkan secara khusus sebagai partisipan perayaan yang akan berlangsung pada tahun 2020. Pada malam hari kami bertemu banyak undangan lainnya dan bertukar ide dan nomor kontak untuk kepentingan kesuksesan event 2020. Hal ini juga menjadi nyata dalam pertemuan dan percakapan selanjutnya dengan walikota dan istrinya, bersama-sama kita dapat memobilisasi secara penuh, tidak hanya untuk Ambon tetapi untuk semua Maluku.

Saya merasa terhormat bisa duduk bersama bung Angelo dan Ambonwhena di baris keempat, duduk di belakang politisi dan artis asal Maluku seperti Ruth Sahanaya.

Disela-sela kunjungan ke berbagai tempat di pulau Ambon, untuk melihat lokasi yang memungkinkan demi pelaksanaan rencana kami, dan melakukan kunjungan ke hotel dan resor, kami diundang oleh gubernur mendatang Maluku Murad Ismail. Undangan ini mengambil tempat di Islamic Centre. Kami disambut dengan hangat oleh orang-orang di sana dan oleh gubernur baru Murad Ismael beserta istrinya. Sekali lagi, banyak musik yang dimainkan dan kami juga mendapat kesempatan untuk mendengar kemampuan gubernur baru dalam bernyanyi. Suara dan karisma yang ditampilkan sungguh sangat luar biasa. Kami juga mendengar berbagai rencana yang dilakukan untuk Maluku antara lain untuk menanam pohon di seluruh provinsi. Hal ini terdengar seperti musik di telinga.

Keesokan paginya pertemuan dengan penyanyi Maluku Doddie. Tentu saja, sebagai keturunan Tehupuring, kunjungan ke kampung Seilale tidak dapat dilewatkan, dan sangat melibatkan emosi bagi seseorang seperti saya yang sebelumnya hanya tahu dari cerita dan sekarang untuk pertama kalinya bisa berjalan di tanah tempat asa. Berenang di laut dan pemandangan hutan yang dimiliki Ambon sangatlah berharga.

Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan di sini. Tetapi saya yakin bahwa di kemudian hari  ada banyak hal untuk dilihat dan didiskusikan. Ini juga diperkuat dengan janji yang telah  kami buat di Jakarta bersama dengan Nicky Manuputty di Visicom, perusahaan terkemuka yang menangani venue dan festival di Indonesia termasuk yang paling baru menangani proyek Asian Games dan Java Jazz, karena musik itu akan menjadi pedoman untuk tahun 2020. Sudah terbukti dari awal. Tidak ada hal yang meragukan lagi untuk menyebut Ambon sebagai kota music.

Jika diingat-ingat kami juga terkejut bahwa selama kami berada di Bali, karena kami diundang oleh Glenn Fredly dan Nicky Manuputty untuk datang dan makan malam bersama dia dan band-nya.

Terlalu banyak cerita yang bisa dituang dalam artikel ini. Kesimpulannya adalah bahwa kita bersama-sama, orang-orang di Maluku, komunitas Maluku di Belanda, komunitas Maluku di Indonesia, orang-orang Maluku di Papua, Amerika, Australia, dan di mana pun di dunia bersama-sama dengan orang-orang di Ambon, harus menjadikan Visit Ambon 2020 sebagai pengalaman yang tak terlupakan.

Keterangan gambar: Visit Ambon, Pulang Kampong.

You may also like

Leave a Comment